bergantunglah, hanya kepada Allah swt

“Ya Allah peliharalah aku dengan Islam ketika aku berdiri. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku duduk. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku terbaring. Jangan gembirakan orang yang memusuhiku dan yang menyimpan dengki kepadaku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang ada di Tangan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh simpanan kejahatan yang ada di Tangan-Mu.” (HR. Al Hakim dalam Mustadrak, 1/525)

Ini adalah doa yang diucapkan oleh amirul mukminin, Umar bin Khattab ra. Kelihatannya sederhana. Meminta perlindungan Allah swt dari segala sisi. Memohon semua kebaikan dan menolak kejahatan. Tapi, curahan kata-kata itu begitu mencakup seluruh bentuk tameng perlindungan yang harus dipintakan seorang hamba kepada Allah swt.

Tapi pernahkah kita merasakan begitu sulitnya merangkai kata-kata dan kalimat dalam sebuah do’a kepada pemilik sifat Ash Shamad, Tempat Meminta. Pernahkah kita merasakan kesulitan merangkum permohonan dan menumpahkannya dalam do’a kepada Yang Maha Kaya. Bukan karena kita yang tidak pandai menyusun kata, karena do’a memang tidak harus dibumbui dengan kata-kata puitis yang justru semakin sulit dipahami. Masalahnya, lidah terasa kelu untuk meminta, dan jiwa sulit sekali dipertemukan dengan bait-bait kata yang menyimpan permohonan sangat dan menyeluruh kepada Allah swt, Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Saudaraku,
Tahukah apa rahasia di balik keindahan do’a dan kesempurnaan munajat yang diucapkan oleh orang-orang shalih? Sesungguhnya untaian kata dalam do’a adalah ekspresi dari kedalaman perasaan mereka terhadap apa mereka pintakan kepada Allah swt. Rasa begitu bergantung dan bersandar pada ke Maha Kuasa dan Maha Besaran Allah swt sehingga menjadikan mereka bertenaga dalam mengungkapkan harapannya kepada Allah swt sebagai satu-satunya tempat untuk meminta.

Begitula, untaian kata dan hubungannya dengan letupan serta gelora yang ada dalam jiwa. Rasulullah saw dan para sahabatnya, yang memiliki tingkat ketaqwaan dan ketawakalan sangat tinggi kepada Allah swt, begitu indah mengungkapkan kata demi kata yang mencakup harapannya kepada Allah swt. Para hamba-hamba Allah swt yang shalih itu, mempunyai keyakinan dan iman yang menyala-nyala dalam batinnya, hingga mereka begitu nikmat mengeluarkan rangkaian kata untuk memohon kepada Allah swt secara menyeluruh. Mereka begitu memiliki kedekatan yang intim kepada Allah swt dalam sehari-harinya, lalu mereka begitu mudah berinteraksi, berbicara, berdialog, meminta, memohon, bermunajat, berkeluh kesah, bercerita kepada-Nya.

Saudaraku,
Mari perhatikan lagi, bagaimana bunyi salah satu do’a yang dipanjatkan Rasulullah saw seperti disampaikan oleh Abdullah bin Umar ra. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan untaian do’a ini ketika pagi dan sore: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan kesalamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah tutuplah auratku. Lindungilah ketakutanku. Ya Allah peliharalah aku dari hadapanku, dari belakangku, dari sisi kananku, dari sisi kiriku, dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu diserang dari bawahku.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Saudaraku,
Seperti itulah permohonan yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. Mohon agar perlindungan Allah swt selalu menyertainya dari semua sudut, dari semua sisi, tanpa celah dan lubang yang tersisa, dan di setiap waktu. Meminta agar Allah swt tidak pernah membiarkannya menjadi incaran dan korban semua kejahatan dari makhluk-makhluk-Nya. Sungguh-sungguh memanjatkan harapan agar Allah swt menyelamatkan agama, dunia dan akhiratnya, menutupi kekurangannya, membentengi ketakutannya.

Pernahkah kita begitu bergantung kepada Allah swt hingga memanjatkan do’a yang sangat menyeluruh seperti ini? Muatan sebuah do’a benar-benar merupakan pantulan dari ketergantungan seseorang yang begitu tinggi kepada Allah swt. Dan seperti itulah jiwa Rasulullah saw, para sahabatnya juga orang-orang shalih. Hingga ketergantungan yang demikian besar itu, seorang shalih dahulu, pernah menuliskan surat kepada saudaranya begiru singkat. Katanya, “Wa ba’du. Jika Allah swt bersamamu, siapa lagi yang engkau takuti ?? tapi jika Allah swt meninggalkanmu, kepada siapa engkau meminta?? Wassalam.”

Merenunglah disini,
Tentang ketergantungan kita kepada Yang Maha Kuat. Tentang nyala keimanan dan keyakinan kita kepada Penguasa Kehidupan. Tentang kedekatan dan keintiman kita kepada Pencipta Kehidupan…

Semakin kita memiliki anasir ketergantungan yang kuat kepada Allah swt seperti itu, kita akan lebih mudah mengucapkan untaian kata permohonan kepada Allah swt. Dan lidah kita, semoga tidak lagi begitu kelu mengutarakan munajat kepada Allah swt. Kita semakin merasakan kenikmatan saat meminta dan bersandar kepada Al Qadir, Yang Maha Kuasa….

Saudaraku,
Soal penanaman nilai ketergantungan kepada Allah swt, dilakukan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya dengan begitu kuat. Diriwayatkan, Rasulullah saw pernah memba’iat para sahabatnya untuk tidak meminta kepada sesama manusia untuk keperluan apapun. Mereka yang dibai’at ketika itu adalah Abu Bakar Shiddiq, Abu Dzar, Tsuban, dan beberapa orang lainnya, radiallahu anhum. Disebutkan dalam shirah, orang-orang yang dibai’at Rasulullah itu kemudian tidak pernah meminta tolong kepada orang lain. Jika tali kekang atau kendali untanya jatuh, ia akan turun dan mengambilnya sendiri dan tidak meminta tolong orang lain untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)

Itulah tawakal,
Ketergantungan yang menjadikan seseorang itu tahu bahwa dirinya hanya bersandar dan berharap kepada-Nya. Lalu secara otomatis sangat memelihara diri dari penyimpangan yang bisa menjadi indikasi keterlepasannya dari ketergantungannya kepada Allah swt. Dan Allah swt pasti menjaga hamba-hamba-Nya yang sangat bergantung kepada-Nya.

Antara Takut dan Harap

"Apabila Allah Ta'ala bukakan pintu raja' (harapan), maka saksikan apa yang Allah berikan untukmu. Apabila kamu ingin Allah bukakan pintu khauf (takut), perhatikanlah apa yang telah engkau amalkan mentaati Allah." (Imam Ibnu Atha'illah)

Saudaraku, ada dua hal yang bisa memotivasi orang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu amal, yaitu raja' (harap) dan khauf (takut). Biasanya, orang akan bersemangat kalau ada untungnya dan orang akan menghindar kalau tahu bahayanya.

Raja' adalah harapan yang selalu dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah SWT; harapan agar amal ibadahnya diterima, harapan agar terhindar dari perbuatan yang dimurkai Allah, dan harapan agar selalu berada dalam rida-Nya.

Sikap harap kepada Allah akan mendatangkan ketenangan dan optimisme dalam hidup. Betapa tidak, Allah adalah pemilik segala-galanya. Ia Mahatahu apa yang terbaik bagi kita. Semua tindakan-Nya teramat tepat, tidak mungkin salah. Karena itu, kita jangan salah menggantungkan harapan diri. Semakin kuat harapan kita pada Allah, akan semakin tenteram pula hidup ini. Sebaliknya, semakin berharap pada makhluk, akan semakin gelisah hidup kita.

Di samping raja', ada pula sikap khauf atau takut. Pentingkah rasa takut itu? Sangat penting. Allah SWT "menakuti-nakuti" manusia dengan ancaman siksaan neraka. Untuk apa? Agar kita menghindari perbuatan maksiat.

Allah SWT menciptakan banyak ketakutan, misalnya takut akan kematian. Ada orang yang tidak takut kepada dosa, tetapi takut kepada mati. Takut mati itu baik, karena bisa membuat kita memperbanyak amal. Jika suatu saat kita melakukan perjalanan, kita harus membayangkan siapa tahu kita meninggal ketika berada dalam kendaraan! Karena itu, berusahalah untuk selalu berdzikir. Andaikan kita meninggal, insya Allah meninggalnya dalam keadaan berdzikir.

Perasaan raja' dan khauf; harap dan takut ini hanya sah bila ditujukan pada Allah semata. Kita boleh berharap dan takut kepada makhluk dalam takaran yang wajar, karena makhluk tidak dapat mencelakakan diri tanpa izin Allah. Yakinlah, tidak ada yang dapat mencelakakan kita tanpa seizin dari Allah Yang Maha Berkuasa. Yang tak kalah penting, kita harus menempatkan sikap raja' dan khauf ini dalam keadaan seimbang dan proporsional. Bila terlalu besar rasa harap, dengan mengabaikan rasa takut, kita akan cenderung menyepelekan amal bahkan terjatuh pada ketertipuan diri. Sebaliknya, bila terlalu takut dengan mengabaikan harapan, kita akan cenderung fatalis, berputus asa, dan hilangnya optimisme dalam diri.

Sebagai sebuah ilustrasi, ada orang yang sering was-was dalam shalat, mulai dari wudhu hingga takbir. Ketika wudhu ia melakukannya berkali-kali, karena selalu merasa bahwa wudhunya tidak sempurna. Begitupun ketika takbir, ia melakukannya berkali-kali hingga menggangu orang yang ada di sebelahnya. Sikap was-was seperti ini bersumber dari tidak seimbangnya raja' dan khauf dalam beribadah. Rasa takutnya (khauf) terlalu berlebihan, sehingga menimbulkan kemudharatan. Begitupun sebaliknya, ada orang yang terlalu pede, sehingga ia kurang memperhatikan aturan atau rukun-rukun dalam ibadah, sehingga ibadahnya terkesan asal-asalan. Yang terbaik, sekali lagi, adalah terjaganya keseimbangan di antara raja' dan khauf tersebut. Allah adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Dia akan mengampuni setiap dosa dan ketidaksempurnan dari amal setiap manusia, selama niat si hamba ikhlas karena Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Keistimewaan Hari Jum'at

Hari Jum'at adalah hari dimana disunnahkan menangguhkan tidur pagi (qailulah) dan makan siang pada setiap hari Jum'at. Mengenai hal ini, Bukhari dan Muslim mengemukakan hadits dari Sa'ad bin Salih yang mengatakan : "Kami tidak tidur pagi dan tidak makan siang kecuali sesudah Sholat Jum'at"

Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Aus bin Aus Ath-Thaqafi ra. yang menyebutkan bahwa dia mendengar sendiri Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang membersihkan badan dan mandi pada hari Jum'at, setelah itu dia siap segera berangkat menghadiri sholat Jum'at, berjalan kaki, tidak berkendaraan, lalu mendekati Imam (duduk di shaf terdepan) dan tidak membuat sia-sia serta mendengarkan khutbah baik-baik, maka setiap langkah (yang ditempuh dalam perjalanan ke Masjid) dia memperoleh ganjaran pahala satu tahun puasa dan sembahyang-sholat Jum'atnya"

Hari Jum'at adalah hari dimana Rasulullah saw, melarang bercukur rambut sebelum shalat Jum'at. Hal ini itu dinyatakan mengikut satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, diperoleh dari Amr bin Syu'aib yang menerima dari ayahnya sendiri (Syu'aib). Dikatakan oleh Syu'aib bahwa dia menyaksikan sendiri Rasulullah saw melarang bercukur rambut pada hari Jum'at sebelum Sholat Jum'at.

Hari Jum'at adalah hari dimana terlepas dari siksa kubur. Abu Ya'la mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Anas ra yang menyebut bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barangsiapa yang meninggal dunia pada hari Jum'at, dia terhindar dari siksa kubur."

Hari Jum'at adalah hari dimana sedekah berlipat ganda. Ibnu Abi Syaibah di dalam "Al-Mushannaf" mengetengahkan sebuah hadits yang diperoleh dari Ka'ab yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Pahala sedekah berlipat ganda pada hari Jum'at"

Hari Jum'at adalah hari dimana pahala kebajikan dan dosa kejahatan berlipat ganda. Ibnu Syaibah mengemukakan hadits yang diperoleh dari Ka'ab yang menyebutkan bahwa hasanah dan sayyiah yang diperbuat pada hari Jum'at pahala dan dosa masing-masing berlipat ganda. Hadits yang lebih kurang serupa diriwayatkan juga oleh Tabrani. Oleh Humaid bin Zanjawiyyah, dari Abu-Haitham dan Abu Sa'id di dalam Fa-dha-'ilul-A'mal", diriwayatkan juga oleh Al-Musayyab bin Rafi.

Hari Jum'at adalah hari dimana tidak dimakruhkan sembahyang tengah hari, yakni sembahyang ketika matahari tepat di atas kita. Mengenai hal itu, Abu Dawud mengemukakan sebuah hadits dari Qatadah, diperoleh dari Rasulullah SAW, bahwa baginda memakruhkan sembahyang tengah hari kecuali pada hari-hari Jum'at, setelah itu menyatakan :

"Neraka Jahanam terus-menarus menyala-nyala kecuali pada hari Jum'at"

Hari Jum'at adalah hari dimana seseorang dilarang melakukan musafir jauh sebelum melakukan Sholat Jum'at. Hal itu dinyatakan mengikuti satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, diperoleh dari Hassan bin Atiyyah yang menyebut bahwa orang yang pada hari Jum'at berangkat musafir jauh (sebelum menunaikan sholat Jum'at) dia didoakan keburukan (oleh Malaikat), tidak ditemani dan dibantu.

Hari Jum'at adalah hari penghapusan dosa. Ibnu Majah mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Abu Hurairah ra, yang menyebut bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Dari hari Jum'at hingga Jum'at berikutnya adalah masa penghapusan dosa (bagi orang yang menunaikan sholat Jum'at), manakala dia tidak berbuat dosa besar (kaba'ir)."

Mengikuti satu hadits lainnya lagi, yaitu yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, diperoleh dari Sulaiman menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepadanya : "Tahukah engkau apakah hari Jum'at itu ?" Dia menjawab, "Allah SWT dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. " Baginda setelah itu menjelaskan, "Hari itu adalah hari dimana Allah SWT mengumpulkan kedua orang tua kamu. Seorang hamba yang berwudlu dengan baik lalu datang ke Masjid untuk menunaikan Sholat Jum'at, Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya (yang diperbuat) dari Jum'at yang satu sampai Jum'at lainnya."

Hari Jum'at adalah hari dimana Rasullulah SAW menganjurkan umatnya supaya banyak-banyak bershalawat kepada Baginda :

"Hendaklah kamu banyak-banyak bersholawat kepadaku pada hari Jum'at karena hari itu adalah hari yang disaksikan (Masyud) oleh Malaikat."

Hari Jum'at adalah hari dimana istigfar sebelum sembahyang Subuh pasti akan terkabul. Tabrani dalam "Al-Ausat" mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Anas ra, yang menyebut bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa beristigfar (mohon ampun) tiga kali sebelum sembahyang Subuh pada hari Jum'at dengan mengucapkan : "Astagfirullah Allazi lailaha illa huwalhayyul-qayyum wa atubu ilaihi" maka dosa-dosanya diampuni Allah SWT meskipun dosanya sebanyak buih di Lautan."

Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim mengemukakan sebuah hadits diperoleh dari Aus bin Ath-Thaqafi ra, yang menyebutkan bahwa dia mendengarkan sendiri Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang membersihkan badan dan mandi pada hari Jum'at, setelah itu dia siap segera berangkat menghadiri Sholat Jum'at, berjalan kaki, tidak berkendaraan, lalu mendekati Imam (duduk di shaf terdepan) dan tidak berbuat sia-sia serta mendengarkan khutbah baik-baik, maka setiap langkah (Yang ditempuh dalam perjalanan ke Masjid) dia memperoleh ganjaran pahala satu tahun puasa dan sembahyang - Sholat Jum'atnya."

Hari Jum'at adalah hari penciptaan Adam as. Muslim mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Abu Hurairah ra, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Hari terbaik dimana Matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukan ke dalam Syurga dan pada hari itu pula dia dikeluarkan dari Syurga. Dan hari kiamatpun akan terjadi pada hari Jum'at."

Hari Jum'at adalah hari berlimpahnya magfirah. Ibnu adiy dan Tabrani dalam "Al-Ausat" mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Anas ra, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya bahwa Allah SWT Tabaraka wa Ta'ala tidak membiarkan seorang muslimpun yang tidak diampuni dosanya."

Asy-Syaukani mengemukakan sebuah hadits yang diperoleh dari Abu Hurairah ra, yang menyebut bahwa Rasulullah SAW, ketika menyebut hari Jum'at bersabda :

"Di dalam hari itu terdapat suatu saat dimana seorang hamba Allah SWT yang menjumpainya, setelah itu dia sembahyang mohon sesuatu kepada Allah SWT, permohonannya pasti diperkenankan."

Tabrani mengemukakan hadits yang diperoleh dari Abu Umamah yang menyebut bahwa Rasulullah SAW, bersabda :

"Barangsiapa menunaikan shalat Jum'at, berpuasa pada hari itu ( dalam keadaan berpuasa pada dua hari sebelum dan sesudahnya), menjenguk orang sakit, menziarahi jenazah dan menyaksikan pernikahan, dia berhak masuk Syurga."

Cara Dahsyat Berpikir Kreatif

Cara Dahsyat Berpikir Kreatif
by Ray Poetra هيرى يانتو on Friday, August 20, 2010 at 2:25pm

Kreatifitas adalah produk yang paling berharga saat ini. Dengan kreatifitas, barang tak berharga bisa bernilai tinggi. Tapi menjadi kreatif bukanlah pekerjaan semalam. Juga bukan pelajaran akademis yang bisa dihafalkan. Untuk menjadi kreatif, anda butuh latihan dan latihan.

Beberapa macam latihan kreatifitas yang bisa dilakukan adalah:

1. Pergi dan pulang di jalur yang berbeda

Jika anda ke kantor melewati jalurA, maka saat pulang usahakan melewati jalur B walaupun itu harus memutar. Bila anda tahu banyak jalur alternatif menuju tempat kerja anda, maka lewati saja semua di waktu-waktu yang lain.

Saat kita melewati jalur yang sama tiap hari, maka otak kita cenderung pasif karena ada system outopilot yang menjalankan tubuh kita. Nah, bila kita melewati jalur berbeda, maka otakcenderung aktif karena baginya ini adalah hal yang baru dan otak perlu waspada.Dengan seringnya otak bekerja, maka semakin besar kemampuan berpikir kita karena otak terlatih dengan baik.


2. Menulis dengan cara yang berbeda

Apakah anda suka menulis dikomputer? Cobalah untuk menulis di kertas atau sekali-kali cobalah buat sebuah puisi di tembok rumah anda. Jika biasa menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil tiduran. Jika biasa menulis dengan posisi tanggal kertas ada diatas,cobalah untuk membalik buku anda.


3. Lakukan kegiatan yang benar-benar baru

Pasti anda punya aktifitas atau hobby yang sangat anda gemari. Cobalah melakukan hal lain yang benar-benar baru. Buat laki-laki, memasak atau mencuci pakaian anak-anak mungkin bisa jadi alternatif. Buat perempuan, sekali-kali cobalah bermain bola dengan anak laki-laki anda.

Anda juga mungkin bisa mencoba hal-hal lain yang sama sekali belum pernah anda lakukan.


4. Temui orang-orang baru

Saat anda ada di suatu pesta atau temu alumni, cobalah hindari orang-orang yang sudah anda kenal dan dekati orang-orang baru yang belum anda kenal sama sekali. Bertemu orang-orang baruakan menambah wawasan anda dan cara berpikir anda. Tiap orang itu unik, dan jika anda banyak bertemu dengan orang2 unik, maka kreatifitas akan mudah anda temukan.


5. Bacalah buku dengan topik yangbelum pernah anda baca

Saat ke toko buku, biasanya kita langsung menuju ke topik tertentu yang kita sukai. Nah, cobalah menahan diri dan pergilah ke topik2 lain yang sama sekali belum pernah anda datangi. Cobalah baca-baca buku disana kalau perlu belilah satu buku.

Nah, itulah beberapa latihan efektif untuk mengembangkan kemampuan otak anda. Sebenarnya masih banyak lagi sih, cuma selama ini itulah yang saya lakukan.. hehehe.. Sisanya silahkan coba-coba sendiri deh

Adakah yang Lebih Damai dari Menyendiri Bersama Allah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :
Allah ’Azza wa Jalla akan turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman : ”Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan menerima permintaannya dan siapa yang meminta keampunan dari-Ku maka Aku akan mengampuninya. (HR. Bukhari dan Muslim)


Hanya Allah Sebaik-Baik Tempat Mengadu

Di Thaif yang tiba-tiba ramai, orang-orang berhamburan keluar. Mengusir sosok mulia yang datang dengan niat mulia. Rasulullah yang khusus datang ke tempat itu untuk menyampaikan ajaran Islam, justru disambut dengan lemparan batu, cacian dan dikejar-kejar layaknya seorang pesakitan.

Sahabat Zaid bin Haritsah RA sudah berusaha sekuat tenaga melindungi tubuh Rasulullah dari lemparan batu. Tapi iapun kewalahan, hingga ia sendiri mengalami luka di kepalanya. Maka Rasulullahpun terluka. Tidak saja fisiknya, tapi juga hatinya.

Darah Rasulullah, sosok manusia paling agung itu mengalir, menyela butir-butir pasir tanah Thaif yang gersang. Rasulullah berlari sambil terseok-seok menghindari lemparan batu yang terus mengejarnya hingga ia berindung ke sebuah kebun milik Uqbah bin Rabi’ah. Dalam kondisi payah itu, sambil menahan sakit, ia bermunajat kepada Allah, mengadukan segala yang ia terima dari orang-orang yang tak mengerti itu.

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku.”

Rasulullah SAW adalah manusia yang memiliki kualitas moral paling baik sepanjang zaman. Namun di hamparan tanah Thaif, Rasulullah SAW mengalami kejadian yang sangat menyesakkan dada. Itulah alur hidup dan jalan perjuangan yang harus dilaluinya.

Tetapi yang harus dicatat, dalam suasana yang sangat pahit seperti itu, Rasulullah mengajarkan betapa masih ada tempat mengadu yang segar disaat yang lain menyakitkan. Tempat mengadu yang lapang di saat yang lain sempit, yang berkenan mendengar disaat yang lain menutup mata dan menyumbat telinga. Tempat mengadu itu adalah Allah SWT.

Maka untaian pengaduan Rasulullah SAW dalam munajat itu tidak saja deklarasi kebergantungan kepada Allah, tapi juga pencarian jawaban akan rasa tentram dari keseluruhan peristiwa yang sangat menyakitkan. Karenanya di akhir do’a itu Rasulullah SAW menegaskan, bahwa jika Allah tidak murka, maka semua kepahitan itu tak akan ia hiraukan. Inilah yang dimaksud jawaban ketentraman di balik kepahitan itu.

Karenanya, di satu sisi Rasulullah memang mengajarkan betapa setiap kita sangat perlu kepada Allah. Betapa setiap kita perlu bermunajat kepada Allah. Betapa setiap kita sangat membutuhkan saat-saat untuk mengadu kepada Allah, menyampaikan segala beban-beban hidup yang berat. Tetapi di sisi lain Rasulullah juga mengajarkan betapa munajat sangat kita perlukan sebagai tempat untuk kita memohon kepada Allah agar kesulitan yang kita hadapi bukan merupakan murkaNya. Bahkan dalam urusan yang menyenangkanpun, kita harus bermunajat kepada Allah, memohon agar kesenangan itu bukan bentuk lain dari cara Allah ’mengasih hati’ untuk kemudian berubah menjadi awal dari malapetaka kehidupan.

Setiap mukmin harus meyakini bahwa dirinya tidak lepas dari rasa bergantung kepada Allah. Tidak ada tempat mengadu yang lebih baik dari Allah SWT. Ia Maha Mendengar keluh kesah hambaNya. Maha Melihat kesusahan dan kesenangan hambaNya. Kepercayaan ini pula yang diajarkan Rasulullah ketika ia hendak kembali lagi ke Mekkah, setelah di Thaif diperlakukan semena-mena.

Zaid yang menemaninya ketika itu bertanya ”bagaimana engkau hendak pulang ke Mekkah, sedangkan penduduknya telah mengusirmu dari sana?” dengan tenang dan mantap Rasul menjawab pertanyaan Zaid, ”Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan membela nabi-Nya.” (Sirah Ibu Hisyam)

Begitulah, meski dalam hadist lain disebutkan bahwa peristiwa Thaif di mata Rasulullah jauh lebih berat daripada peristiwa Uhud, namun Rasulullah tetap memupuk keyakinan, menanamkan semangat dan keyakinan bahwa bersama Allah, segala kesulitan akan punya jalan kemudahan.

Episode pengusiran dari Thaif yang dialami rasulullah juga mengisyaratkan pelajaran penting lainnya. Bahwa betapapun tingginya jiwa seseorang, ia takkan bisa terlepas dari fitrah dan kadar kemanusiaannya. Fitrah perasaan yang merasa senang, sedih, ingin pada ketenangan, menghindari kesulitan dan sebagainya. Merasa sakit bila mengalami penderitaan, merasa gembira bila keinginannya tercapai. Merasa sedih kala melewati peristiwa yang menyakitkan, merasa senang bila mengalami kemudahan.

Tetapi sekali lagi, itu semua justru dalam konteks yang tak jauh berbeda, bahwa setiap orang memerlukan sandaran hidup yang kokoh. Dan tidak ada tempat bersandar yang lebih kokoh dari Allah SWT. Sementara sesama manusia tidak akan ada yang bisa menjadi tempat mengadu yang sesungguhnya. Dalam istilah Ibnul Qayyim Rahimahullah, ”Orang bodoh adalah yang mengadukan Allah kepada manusia. Andaikan ia tahu siapa Robb-nya, tentu ia tak akan mengadukan-Nya kepada manusia, dan andaikan dia tahu siapa manusia, tentu dia tidak akan mengadu pada mereka.”

Mengadukan Allah pada manusia, artinya mengeluhkan segala permasalahan dan beban hidup yang diberikan Allah atas seseorang, pada sesama makhluk. Hal itu tak akan terjadi bagi orang yang mengerti siapa Allah dan siapa manusia. Sebagian dari salafusshalih mengatakan ”Demi Allah, mengapa engkau mengadukan Yang Mengasihimu kepada siapa yang tidak mengasihimu?”

Selanjutnya menurut Ibnul Qayyim, ada tiga tingkatan yang terkait dengan masalah pengaduan. Pengaduan yang paling buruk ialah mengadukan Allah kepada makhluk-Nya. Yang paling tinggi ialah mengadukan diri sendiri kepada Allah. Dan yang pertengahan ialah mengadukan makhluk kepada Allah.

Allah memiliki salah satu sifat yang disebut Ash Shamad, atau tempat memohon pertolongan. Dalam Al Qur’an, kata Ash Shamad hanya ditemukan dalam satu ayat dari ayat kedua surat Al Ikhlas yang berbunyi, ”Allahu Ash Shamad”. Menurut Ibnu Abbas, kandungan makna Ash Shamad itu adalah sesuatu yang telah sempurna kemuliaannya, yang agung dan mencapai puncak keagungannya, yang kaya dan tidak ada yang melebihi kekayaannya, yang perkasa dan sempurna keperkasaannya, yang mengetahui dan sempurna pengetahuannya, yang bijaksana dan tiada cacat dalam kebijaksanaannya. Itulah Allah SWT.

Sifat Ash Shamad artinya hanya Allah satu-satunya tumpuan harapan, segala kebutuhan dalam wujud ini tidak tertuju kecuali kepada-Nya. Dan yang membutuhkan sesuatu tidak boleh mengajukan permohonan kepada selain-Nya. Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW mengajarkan Ibnu Abbas, ”Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau membutuhkan pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.” Allah SWT berfirman, ”Apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah(lah) datangnya, dan bila kamu ditimpa kemudharatan maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl : 53)

Di dalam Al Qur’an Allah menjelaskan, bahwa orang-orang yang enggan memohon kepada Allah adalah orang-orang yang sombong. Allah SWT berfirman ”Dan Tuhanmu berkata, memohonlah kepada-Ku, niscaya aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembahku, akan memasuki neraka secara hina.” (QS. Al Mu’min : 60)

Tak ada suasana paling indah, kecuali hadir dengan penuh ketundukan dan rasa kebergantungan yang dalam dihadapan Allah SWT. Terlebih di saat malam yang sunyi. Ketika dunia terlelap dalam diam.

Ditengah segala kesulitan hidup yang terus menumpuk, semestinya, seorang muslim punya saat-saat khusus untuk bermunajat kepada Allah di luar kewajiban rutinnya yang tetap. Dalam kesendirian, dalam suasana hening, dalam kesunyian dunia, kita bisa menyendiri mengadu kepada Allah, seluas-luasnya, sebebas-bebasnya, tanpa sedikitpun merasa tak didengarkan.